June 2013
1 post
May 2013
5 posts
Golden haze,
Another morning feels like yesterday.
End of may..
Now you’re gone and there’s still bills to pay.
And you know it doesn’t help to make believe, you’re sitting next to me.
It doesn’t help, to make believe that you are right behind me
Saying it’s okay.
Longer days,
More time to sit and watch the pendulum sway.
In quiet rage I’m staring at this empty notebook page.
In times like these you feel like you are done with feeling,
You feel you want to stop the pain from healing
Because you feel like you’re the only one who’s ever felt this way.
Some days in a daze, there’s brighter days.
Funny how the feeling never stays,
But I know I’ll have to come to terms when I’m awake,
Thinking about you is the icing on the cake.
Makes me realize the fact you’re gone for good for goodness sake.
Golden haze, another morning feels like yesterday.
End of may, a year is gone and I still feel this way,
When we meet again I’ll ask you how you’re doing
And you’ll say fine and ask me how I’m doing
And then I’ll lie and I’ll say ordinary, It’s just an ordinary day.
*udah hampir 1tahun lebih kalau dianter ke sekolah sama ibu lagu ini terus yang masuk ke playlist, berhubung radio mobil error. Ini lagu galau banget tapi seneng seneng aja kalau nyanyi bareng ibu di mobil {}
Dengerin fairy tale ini berasa lagi ada di kapal pesiar yang gede dan keren banget, sore hari sambil liat ombak-ombak di lautan.
#Lebaybanget
Tapi beneran cobain aja sendiri dengerin ini dikamar sendirian lebih bagus sambil dipejamkan matanya. Udah banyak yang aku saranin ini dan ngerasain hal yang sama loh! Atau mungkin imajinasi kalian lebih bagus!
- K: iiiih kok aneh ya ngetweet kayak gitu ngapain coba
- N: iyaaayaaa kenapa yaaa (lagi akur banget liat tl twitter berdua)
- K: Nah gininih ngga enaknya bisa dikepoin, raditya dika pernah nulis di bukunya kalau ngga salah dia bilang "ya elu kalau suka sama orang liat tweet-tweet dia aja di twitter gimana, kan keliatan tuh orangnya kayak gimana dari tweetsnya".
- N: iya iyaaa!! aku baca itu juga, kenapa gitu ?
- K: akumah ngga setuju da, ya mungkin berapa persen ada benernya juga, tapi kalo akumah ngeliat orang tuh pengen ketemu dulu secara langsung kan keliatan tuh orangnya gimana mau urusan itu temen/orang yang kita suka sama aja. Nah kalo kata raditya dika gitumah brarti kita ngenilai orang yang mau kita temuin tuh dari tweetnya kan terus kalo kita gasuka ngga jadi ketemu gitu ? sekarang aja adakan temen yang kita ketemu langsung kenalannya terus baik orangnnya sama kita,nyambung juga dari obrolannya tapi di twitter dia mungkin bisa dibilang 'ga banget' toh ngga langsung dimusuhin jugakan ?
- N: oooohiyaya kepikiranlaaaah..... Berarti berlaku ya 'jangan menilai buku dari sampulnya?
- K: ah gatau ah ya kali terserah, pokonya mah lebih enak ketemu langsung dululah ngenilai orang tuh, belakangan aja yang socmed nya mah
“Jangan semua dinamain berkorban demi temen, liat nyata dan fakta yang ada sekarang, mending temenmu itu berkorban juga demi kamu, sekarang banyak yang ngga berkorban balik udah seenaknya aja, akhirnya kamu yang dirugikan, hidup juga harus ada feedbacknya dong tanpa harus kita minta dan kita harapkan”
-Bu guru sosiologi yang baik hati banget ngomong gini ke anak anak di kelas.
Selain agama dan pendidikan, yang terpenting untuk membuat negera ini menjadi maju adalah etika, apalah artinya keanekaragaman dari negara berpulau pulau, jika dari yang terkecilnya saja seperti kamu tidak mempunyai etika. Untuk semua rakyat Indonesia.
-Nadya, berpikir keras melihat sudah abstrak sekali negara ini, baru diturunin sembarangan pula sama sopir angkot yang ngomongnya wuuuuh sedaaap!!!
April 2013
7 posts
- Di suatu obrolan malam, seperti biasa aku dan kakakku sering bercerita maupun bertukar pendapat. Kali ini aku ingin melihat pandangan dia mengenai orang di sekitar kita yang sangat santai bahkan terlalu santai untuk belajar. Menurut pendapatku belajar dan bermain memang hal yang saling berkesinambungan apalagi di usia duduk di SMA sekarang ini.
- Suatu kali pernah temanku berkata "ya ampun belajar aja terus hidup tuh harus enjoy" aku hanya senyum dibuatnya. Sebenarnya kalau dilihat dia sendiri tidak tau jika diluar jam belajar aku suka bermain, bahkan ngegossip, sekedar ngobrol atau yang hangout dengan teman-temankan. Ya kebiasaan wajarlah seperti yang lainnya.
- Hanya saja cara aku dan dia berarti berbeda, kalau memang diwaktu belajar ya aku akan belajar. Aku tau semua orang harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, aku sendiripun inssyallah percaya dengan diriku sendiri.
- N: Ka gimana menurut kamu ? (Setelah aku menceritakan hal tersebut)
- K: Hm.. sebenernya orang kayak gitu belum dewasa, di SMA aja dia masih seneng seneng aja main terus sama temen-temen. Yang aku liat SMA itu proses menuju suatu kedewasaan yang akan dihadapin waktu di perkuliahan nanti.
- N: ooooh iyayaaa
- K: Iya, karena di kuliah nanti ngga ada yang bisa berusaha kecuali diri kamu sendiri, temen juga ada ya ngebantu alakadarnya. Masalah absen, nilai kurang dll ditanggung sendiri. Ya SMA masihlah kadang disuruh orangtua buat gini,gini,gini. Di kuliah udah sedikit dilepas. Mau kamu naik kek mau ngga urusan kamu. Kamu malu sendiri, sedih juga sedih sendiri kalau ngga mencapai sesuatu/salah melakukan sesuatu.
- N: Hmm..
- K: Jadi banyak kan sekarang yang ngga kuat di kehidupan perkuliahannya karena dari SMA aja dia belum bisa nanganin proses pendewasaan apa itu yang namanya tanggung jawab sama diri sendiri. Masalah yang stress kan ada aja karena dia ga siap. Makanya kamu jangan bilang aku bayi kalau malem aku tidurnya cepet soalnya aku sendiri yang nentuin tugas udah dikerjain atau belum pokonya aku yang tanggung jawab deh sama nilai aku.
- N: Iya jadi pergaulan sama pendidikan pentingkan dua-duanya ?
- K: iyaalah, nanti kamu yang seneng sendiri, sukses sendiri kan seneng juga.
- N: Iya aku cuma mau tanya pendapat aja, aku engga mau campurin urusan orang yang gitu, karena aku tau, sebisa mungkin urus sendiri sendiri ajalah yaaa.
- K: Iya gapapa, semua balik ke diri sendiri.
“Cerdas hungkul teu cukup, mun hoyong jadi nu terbaik kudu kuat oge, jadi cerdas jeung kuat. Jalma nu bodo tara diajar tong mimpi, nu cerdas hungkul ge can pasti bisa. Matak kudu didasarkeun ti mimpi, tekad jeung empati. Orang itu bisa berempati mun geus pernah ngalaman kajadian eta, empati teh perlu di kahidupan kalian, komo nu hoyong jadi pemimpin.” - Bapak guru geografi XI IPS 2
March 2013
5 posts
Pagi tadi sahabat ku bercerita, dia mempunyai seorang teman yang selalu tidak menepati janjinya. Aku hanya berpendapat “kalau aku jadi kamu, 3 kali seperti itu akan aku diamkan saja, apakah kita untung mempunyai teman yang seperti itu, dan membuatmu menunggu di suatu tempat tapi dibatalkan dengan seenaknya ? Berarti dia tidak menghargai waktu, waktu saja tidak ia hargai, apa lagi orang lain yang ia ajak bertemu misalnya. Mungkin aku akan baik baik saja dengan dia, tapi menurutku dia hanya teman asal kenal saja bagiku.”
Ya itu adalah pendapatku, aku memang orang yang cukup mempunyai banyak teman dekat, tapi untuk bersahabat bisa dihitung dengan jari. Aku butuh waktu yg relatif lumayan lama untuk nyaman bersahabat dengan orang lain.
Untuk hal seperti di atas tadi, aku benar benar melihat orang dari cara dia menghargai orang lain. Menghargai pendapat, saran, ataupun waktu yang orang lain berikan kepada kita. Tapi terkadang aku benar benar sangat membutuhkan seorang teman/sahabat tipe pendengar yang baik, ya dan aku mempunyai teman seperti itu, 3orang lebih tepatnya, mereka jarang memberi solusi tetapi mereka memahami apa yang kita sampaikan pada mereka.
Banyak sahabat yang baik dalam mendengarkan dan juga baik dalam memberi solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi dengan tepat. Tetapi aku menyadari terkadang aku membutuhkan beberapa teman yang hanya dapat mendengarkanku dan mengerti apa yang aku sampaikan, itu semua lebih dari cukup.
What’s the point of looking great on the outside if we are not happy inside ? Look for happiness. Life is meant to be enjoyed— but hard work and achievements are still necessary in order to gain respect from others. Those two things will make people not able to toy with you.
Inti dari sebuah buku yg sangat menginspirasi selama 17tahun saya sekarang ada di dunia ini.
” —It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
Til it was a battle cry
I’ll come back
When you call me
No need to say goodbye
Just because everything’s changing
Doesn’t mean it’s never
Been this way before
All you can do is try to know
Who your friends are
As you head off to the war
Pick a star on the dark horizon
And follow the light
You’ll come back
When it’s over
No need to say good bye
You’ll come back
When it’s over
No need to say good bye
Now we’re back to the beginning
It’s just a feeling and no one knows yet
But just because they can’t feel it too
Doesn’t mean that you have to forget
Let your memories grow stronger and stronger
Til they’re before your eyes
You’ll come back
When they call you
No need to say good bye
You’ll come back
When they call you
No need to say good bye
February 2013
2 posts
We accept the love we think we deserve. -LL
Gagal dan berhasil dalam hidup seperti makan dan minum. Jika diibaratkan makan itu kegagalan, maka minum adalah keberhasilan. Tidak mungkin kita makan terus tanpa berusaha mencari minum untuk melapangkan jalannya makanan tersebut. Begitu pula sebaliknya, tidak mungkin kita minum terus tanpa membutuhkan sesuap makanan untuk menyeimbangkan proporsi gizi di dalam perut kita.
Kegagalan bisa sangat terasa pahit. Apalagi jika kita telah bertaruh segalanya. Namun apakah keberhasilan juga tidak akan menimbulkan rasa pahit?
Ketika kita telah berhasil menggapai salah satu mimpi kita, ada rasa percaya diri yang tinggi bahwa segala sesuatu bisa kita dapatkan dengan mudah. Ada semacam high expectation dalam diri kita bahwa segala sesuatu bisa kita genggam dengan mudahnya. Namun nyatanya tidak juga. Karena manusia hanya bisa berencana dan Tuhan pula lah yang pada akhirnya menentukan segalanya.
Dan terkadang kegagalan jauh bisa membentuk diri kita daripada keberhasilan itu sendiri. Tidak selamanya kegagalan itu buruk. Kegagalan itu tangkai cincin permata kita yang dengan sekuat tenaga mencengkran permata “keberhasilan” kita agar tetap pada tempatnya.
” —